Rabu, 30 Mei 2012

makalah reproduksi kelompok


BAB I
PENDAHULUAN
Selama kebuntingan, pertumbuhan dan perkembangan uterus dipengaruhi oleh peningkatan konsentrasi hormon progesteron dan estradiol (Sumaryadi, et al, 2000), selanjutnya kehadiran hormon-hormon tersebut berperan merangsang pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu guna mempersiapkan sumber makanan (produksi susu) bagi fetus yang akan dilahirkan (Manalu, dan Sumaryadi, 1995) . Sumber utama penghasil hormon yang berkaitan dengan reproduksi seperti estrogren dan progesteron berasal dari folikel. Hewan-hewan betina sejak lahir pada ovariumnya dilengkapi oleh ratusan ribu folikel, namun selama hidupnya hanya sebagian kecil saja yang berhasil diovulasikan.
            Usia kebuntingan  yang dianggap normal (matur / aterm) untuk melahirkan adalah berkisar 38-42 minggu (Sumaryadi, et al, 2000). Jika partus terjadi di usia kehamilan <38 minggu disebut preterm (prematur), sebaliknya jika partus terjadi saat usia kehamilan>42 minggu dinamakan posterm (postmatur) (Partodihardjo, 1992).
            Partus normal/biasa jika fetus lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala, tanpa memakai alat pertolongan istimewah (forceps, vacum) serta tidak melukai ibu dan janin (kecuali episiotomi), berlangsung kurang dari 24 jam(Partodihardjo, 1992).
            Partus abnormal jika fetus lahir melalui vagina dengan bantuan tindakan/alat istimewa (vaccum, forceps, dekapitasi, embryotomi, dll) atau melalui abdomen (operasi sectio cesarea) (Partodihardjo, 1992).



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Periode Fetus
Fetus adalah hasil akhir dari suatu proses diferensiasi secara teratur yang merubah zigot bersel satu menjadi suatu replica dari jenis hewan yang bersangkutan (Iman dan Fahriyan, 1992). Selama permulaan cleavage pada satu sel telur yang telah dibuahi, ukuran sel tersebut berkurang secara progresif dengan sedikit perubahan bentuk. Selama akhir perkembangan embrional ukuran sel tidak berubah secara nyata sedangkan jumlah sel bertambah.
Periode fetus berlangsung pada 46 hari kebuntingan sampai partus. Periode ini ditandai dengan pertumbuhan alat-alat tubuh seperti pembentukan tulang dan rambut dan perubahan-perubahan lain. Jadi periode fetus merupakan periode terakhir yang dimulai dengan terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam.
Selama dua per tiga awal kebuntingan, fetus berkembang dengan lambat dan baru pada sepertiga terakhir kebuntinga fetus berkembang dengan sangat cepat. Pertambahan masa fetus pada sepertiga masa kebuntingan mencapai 85% dari bobot lahirnya, sehingga wajar terdapat hubungan antara tingkat nutrisi pada periode ini dengan bobot lahir anak khususnya diamati pada domba (Iman dan Fahriyan, 1992).
Karbohidrat merupakan sumber makanan utama bagi perkembangan fetus. Kurang lebih setengan kalori dibutuhkan untuk pertumbuhan dan metabolisme berasal dari glukosa, seperempat dari laktat yang dibentuk dari glukosa dalam plasenta, sedangkan sisanya berasal dari asam amino (Toelihere 1985).  Kalori tambahan dari pertumbuhan fetus berasal dari asam amino esensial, asam lemak esensial, vitamin dan mineral. Beberapa dari zat ini ditransfer secara seleksi dari induk ke fetus melalui mekanisme transport yang memenuhi kebutuhan fetus pada saat induknya mengalami defisiensi nutrisi.
Tahap perkembangan fetus dimulai dari diferensiasi, perkembangan somit, organogenesis dan perkembangan diferensiasi organogenesis.
1)      Diferensiasi
Difernsiasi adalah suatu proses dimana sel-sel embryonal bersegregasi untuk membentuk banyak macam sel. Selama permulaan diferensiasi, sel-sel pada satu kutub blastosis membentuk 3 lapisan sel yang terpisah. Lapisan terdalam, endoderm, membentuk organ bagian dalam termasuk dinding usus, kelenjar, vesica urinaria dan organ-organ lain (Iman dan Fahriyan, 1992). Lapisan terluar, ektoderm, membentuk medulla adrenal, otak, sum-sum tulang belakang dan semua derivat sistem syaraf, termaksud vesicula optica, dan neurohypophysa. Sel-sel ektodermal yang terletak lateral dari ektoderm neural membentuk adenohypophysa, kulit dan semua derivatnya termaksud kelenjar mammae dan kelenjar-kelenjar lainnya, kuku, rambut, teracak dan lensa mata. Lapisan benih ke tiga, mesoderm, antara ektoderm dan endoderm, membentuk jaringan ikat, sistem vasculer, tulang dan otot serta cortex adrenal (Iman dan Fahriyan, 1992). Sel-sel kelamin primer mungkin berasal dari mesoderm atau ektoderm.
2)      Pembentukan Somit
Segmen-segmen tubuh atau somit, yang berkembang dari lapisan luar (lapisan somatik) mesoderm, berdiferensiasi menjadi tiga daerah yang akan membentuk berbagai bagian tubuh fetus. Daerah pertama berkembang menjadi tulang belakang, yang menyelubungi saluran syaraf didalamnya. Daerah kedua, bagian teratas dekat saluran syaraf, membentuk urat daging skeletal. Daerah ketiga, bagian terbawah somit, membentuk jaringan ikat dan kulkit. Pada sapi diferensiasi daerah-daerah somit dimulai 19 hari setelah ovulasi dan jumlahnya bertambah banyak secara cepat mencapai 25 pada hari ke 23, 40 pada hari ke 26 dan 55 pada hari ke 23(Iman dan Fahriyan, 1992).

3)      Organogenesis
Pada sapi permulaan pembentukan organ dan bagian tubuh berlangsung sejak minggu ke 2 sampai ke 6 masa kebuntingan. Selama periode ini juga terjadi pembentukan saluran pencernaan, paru-paru, hati dan pangkreas. Permulaan pembentukan sistem-sistem otot, kerangka, syaraf dan urogenetalia sudah ditemukan (Partodihardjo, 1982). Pada hari ke 21 jantung mulai berdenyut dan sirkulasi darah mulai berlangsung.
4)      Perkembangan diferensiasi komponen-komponen fetus
Sesudah dimulai organogenesis terdapat suatu periode peningkatan dimensi fetus secara cepat. Hal ini dapat terjadi dari pertambahan jumlah sel dan pembesaran ukuran sel melalui pertambahan subtansi protoplasma; yang biasa disebut dengan pertumbuhan. Pertumbuhan dapat diuraikan sebagai mutlak dan relatif (Iman dan Fahriyan, 1992). Pertumbuhan mutlak adalah perubahan volume panjang kepala-pangkal ekor, atau berat fetus perunit waktu. Pertumbuhan relatif adalah pertumbuhan mutlak perdimensi permulaan interval yang diukur. Pertumbuhan mutlak fetus tidak bersifat linear tetapi bertambah secara eksponensial sampai kelahiran, mencapai maksimum selama akhir kebuntingan, sedangkan pertumbuhan relatif menurun kira-kira pada pertengahan kebuntingan. Pada sapi lebih dari setengah pertambahan berat fetus terjadi selama 2 bulan berakhir kebuntingan. Pada waktu partus berat fetus mencapai 60% berat total konseptus(Iman dan Fahriyan, 1992).
Berbagai organ fetus bertambah menurut kecepatan yang berbeda-beda, yang menyebabkan perubahan konformasi organ-organ secara kontinu. Pola pertumbuhan fetus berlangsung mengikuti suatu aturan yang defenitif. Misalnya pada waktu lahir, kepala, kaki dan sepermpat bagian depan tubuh relatif lebih berkembang dari pada otot-otot.
Pertambahan dan pertumbuhan kerangka tubuh berlangsung seragam, akan tetapi beberapa dimensi bertambah secara lebih cepat dari pada yang lain yang mengakibatkan perubahan proporsi tubuh. Perbedaan bangsa, terutama antara besar dan kecil, juga terdapat untuk tinggi pundak atau panjang kepala sampai pangkal ekor.
Pada semua hewan ternak, pertumbuhan dari blastocyst disertai dengan perubahan bentuk menyerupai tali dan mengisi sebagian besar lumen uterus. Pada waktu itu, terjadi proses diferensiasi yang disertai dengan pembentukan organ-organ dari embryo dan juga pembentukan struktur extra embryonic yang kemudian akan menjadi selaput fetus (Partodihardjo, 1982).
Beberapa germ layer berkembang dalam blastocyst, yaitu ektoderem, mesoderem, dan endoderem, semuanya merupakan dasar dari perkembangan selanjutnya (Toelihere, 1985). Setelah blastocyst berbentuk panjang seperti tali terbentuklah amnion dan allantochorion. Pada tahap permulaan terbentuklah struktur yang ke tiga yaitu kantung kuning telur. Kantung tersebut menyediakan makanan bagi perkembanagan embryo pada tahap itu, tetapai lama kelamaan kantung kuning telur akan hilang.
Lipatan gabungan antara ektoderem dan mosederem (yang sekarang disebut trophgoderm) membentuk amnion (Toelihere, 1985). Kantung kecil tersebut gambung dan berisi cairan bening. Fetus yang mengapung bebas dalam cairan itu akan terlindung dari gangguan mekanis yang mungkin dilakukan induk bila induk tiba-tiba bergerak. Cairan amnion tetap ada selama hewan bunting, tetapi pada sapi setelah 45 hari amnion relatif tidak banyak mengandung cairan dan fetus tidak dipalpasi melalui dinding amnion.
Allantois berkembang dari usus bagian belakang, kemudian bergabung dengan chorion yang merupakan selaput dibagian paling luar yang terdiri dati dua lapisan yaitu ektoderm dan endoderm          (Toelihere, 1985). Gabungan itu dissebut allanto-chorion. Allantois dialiri darah dan pembuluh darah tersebut berperan sebagai pembawa zat-zat makanan dan pembuangan kotoran antara fetus dan induknya. Perlekatan allanto-chorion ke endometrium uterus disebut plasentasi (placentation). Sehingga aliran darah anak darah dan induk saling tukar menukar dan bervariasi diantara berbagai golongan hewan. Pada sapi dan domba ada daerah kontak khusus yaitu cotyledon. Cotyledon-cotyledon tersebut kecil, bentuknya seperti cakram dan kaya akan pembuluh darah     (Partodihardjo, 1982) . Dari cotyledon-cotyledon, pembuluh-pembuluh darah itu akan menyebar ke uterus dan bagian dari fetus. Darah tidak langsung lewat dari dari saluran darah induk kesalurandarah fetus dan sebaliknya, tetapi ada yang memisah kedua aliran tersebut, yaitu berupa lapisan-lapisan yang terdiri dari sel-sel dan melalui lapisan-lapisan ini zat-zat makanan akan lewat dala satu arah, dan sisa-sisamakanan dari arah yang berlawanan. Ada beberapa subtansi yang tidak dapat menembus jaringan-jaringan antara fetus dan induk karena konfigurasi molekulnya. Dari subtansi-subtansi tersebut yang penting adalah anti bodi. Anti bodi tersebut mungkin banyak terdapat pada induk, tetapi hanya didapati dalam jumlah sedikit pada fetus. Untuk melindungi fetus dari penyakit, sesudah lahir, hewan harus mendapatkan anti bodi dari sumber lain. Pada mamalia sumbernya biasanya dari kolostrum atau susu yang diproduksi selama dua atau tiga hari permulaan laktasi.
5)      Ekstermitas sampai kelahiran.
Selama periode ini, karunkula dan kotiledon berkembang dan membesar untuk mensuplai makanan pada fetus. Pada permulaan periode fetus, terbentuklah kelopak mata, osofokasi tulang dimulai dan perubahan-perubahan cepat terjadi pada bentuk dan ukuran kaki                           (Iman dan Fahriyan, 1992). Pada akhir masa kebuntingan, anak fetus ternak yang normal telah berkembang sedemikian rupa sehingga sanggup hidup di luar tubuh induknya setelah partus.
B.     PARTUS PADA SAPI
Kelahiran atau partus adalah proses fisiologis yang berhubungan dengan pengeluaran anak dan placenta dari induknya pada akhir masa kebuntingan.
1)      Gejala-Gejala Menjelang Partus
            Tanda ataupun gejala-gejala menjelang partus pada hewan ternak, pada umumnya hampir sama dari spesies ke spesies, tetapi tidak konstan antara individu ternak dan antara partus yang berurutan.  Tanda-tanda itu misalnya : induk hewan gelisah, ligamenta sacrospinosum et tuberosum merelaks, edema pada vulva, lendir sumbat cervic mencair, kolostrum telah menjadi cair dan apabila ambing dipencet akan mengeluarkan susu, dan sebagainya (Manalu et. al,. 1995). Gejala-gejala ini merupakan indikasi yang baik terhadap perkiraan waktu kelahiran yang diharapkan.
Waktu perkawinan jika diketahui, sangat membantu dalam memperkirakan waktu partus. Pada peternakan yang dikelola secara baik, catatan perkawinan merupakan suatu keharusan. Segera sebelum melahirkan, kebanyakan hewan cenderung memisahkan diri dari kelompoknya.
Pada sapi ligament-ligament pelvis, terutama ligament sacroischiadicus, sangat mengendur yang menyebabkan penurunan ligament dan otot-otot pada bagian belakang. Relaksasi ligament-ligament pelvis, cervix dan struktur di sekitar perineum disebabkan oleh oedema dan perubahan-perubahan di dalam serabut kolagen pada jaringan ikat karena peningkatan estrogen dari placenta dan kelenjar endokrin lainnya seprti adrenal. Relaxin juga memegang peranan penting. Pada kebanyakan sapi, pengendoran ligament-ligament ini menandakan bahwa partus mungkin akan terjadi dalam waktu 24 – 48 jam (Manalu et. al,. 1995). Relaksasi ligament juga jelas terlihat dengan peninggian pangkal ekor. Vulva menjadi sangat oedematus, melonggar dan mencapai 2 – 6 kali ukuran normal. Ambing membesar dan oedematus. Pada sapi dara pembesaran ambing dimulai pada bulan keempat periode kebuntingan. Pada sapi pluripara pembesaran ambing mungkin tidak nyata 2 – 4 minggu sebelum partus. Pada sapi berproduksi susu tinggi, terutama sapi muda, oedema ambing yang sangat besar dapat mengakibatkan kesulitan berjalan. Oedema dapat mengembang ke cranial pada dasar abdomen sampai ke daerah xiphoid dan tebalnya dapat mencapai 5 – 15 cm.
Pada daerah pusar ia dapat menyerupai hernia umbilicalis dan dapat juga menyebar ke belakang sampai daerah vulva. Segera sebelum partus sekresi kelenjar susu berubah dari warna dan konsistensi seperti madu kering menjadi kuning, keruh dan gelap yang disebut kolostrum.       Suatu lendir putih, kental dan lengket keluar dari bagian cranial vagina mulai bulan ketujuh masa kebuntingan. Lendir tersebut semakin banyak keluar menjelang kelahiran. Segera sebelum partus jumlah lendir sangat meningkat dan penyumbat cervic mencair.
Selama beberapa jam sebelum partus hewan memperlihatkan anorexia dan ketidaktenangan. Sapi dara memperlihatkan kesakitan abdominal, menghentak-hentakkan kaki, mengibas-ngibaskan ekor, berbaring, dan bangkit kembali.
2)      Presentasi, Posisi, dan Postur Fetus
Kedudukan foetus perlu ditentukan secara teliti sewaktu memasuki saluran kelahiran dan pelvis (Manalu et. al,. 1995). Deskripsi ini dipakai pada kelahiran normal maupun abnormal.
Presentasi mencakup :
1.      Hubungan antara sumbu spinal fetus terhadap sumbu panjang tubuh induk. Presentasi dapat longitudinal ataupun transversal.
2.      Bagian fetus yang mendekati atau memasuki rongga pelvis atau saluran kelahiran. Bagian fetus tersebut adalah bagian anterior atau posterior pada presentasi longitudinal dan dorsal atau ventral pada presentasi transversal.
Pada presentasi longitudinal, sumbu spinal fetus sejajar dengan sumbu induk, sedangkan pada presentasi transversal sumbu panjang fetus terletak menyilang atau tegak lurus terhadap sumbu panjang induk. Pada presentasi longitudinal, bagian fetus dapat terletak anterior ataupun kepala muncul terlebih dahulu dan dapat pula terletak posterior atau bagian ekor fetus muncul terlebih dahulu. Presentasi transversal dapat terjadi ventral posisi yaitu bagian bawah tubuh fetus menghadap keluar saluran kelahiran dan dapat pula terjadi dorsal posisi dengan bagian punggung fetus menghadap keluar.
Posisi adalah hubungan antara dorsum atau punggung fetus pada presentasi longitudinal, atau kepala pada presentasi transversal terhadap sisi pelvis induk, yaitu sacrum, pubis, ilium kiri dan ilium kanan      (Manalu et. al,. 1995).
   Postur menunjukkan hubungan extremitas, yaitu kepala, leher dan kaki, terhadap tubuh fetus (Manalu et. al,. 1995). Extremitas tersebut dapat membengkok, lurus, terletak di bawah, di samping kiri, di samping kanan ,ataupun di dorsal fetus.
Pada keadaan normal, fetus terletak pada presentasi longitudinal anterior, posisi dorso-sacral dengan kepala bertumpu pada tulang-tulang metacarpal dan lutut pada kaki depan yang melurus. Kelahiran dapat pula berlangsung normal bila fetus berada dalam presentasi longitudinal posterior, posisi dorso-sacral. Kecuali pada keadaan fetus yang kecil, posisi lainnya berakhir dengan distokia. Presentasi transversal jarang terjadi dan jikalau terjadi selalu berakhir dengan distokia. Presentasi longitudinal posterior, posisi dorso-sacral, dengan kaki-kaki belakang tertahan ataupun melurus dibawah tubuh, biasa disebut dengan letak sungsang.
3)      Mekanisme Inisiasi Kelahiran
a)      Mekanisme Stimulasi Mekanik
 Pengembangan uterus karena fetus yang semakin membesar menyebabkan peningkatan sensitivitas otot-otot uterus terhadap estrogen dan oxytocin (Manalu et. al,. 1995). Semakin tua usia kebuntingan, maka semakin besar pula volume fetus dalam kandungan. Hal ini dihubungkan dengan kebuntingan kembar pada spesies monotoccus, yang pada umumnya mengalami proses kelahiran lebih awal.
Tetapi teori Mekanik ini dibantah oleh suatu kejadian yang disebut Hydrops (Partodihardjo, 1982). Hydrops adalah suatu kejadian patologis dimana volume cairan alantois atau cairan amnion atau keduanya mengalami pertambahan yang abnormal. Pertambahan ini terjadi secara lambat, tetapi tetap dan melebihi volume normal. Tekanan yang berasal dari pertambahan volume cairan kandungan mengarah keluar hingga uterus teregang. Keregangan ini melebihi keregangan yang ditimbulkan oleh pertambahan volume fetus. Namun demikian inisiatif otot-otot uterus untuk berkontaksi tidak terjadi. Perut hewan terlihat sangat membesar, tetapi proses kelahiran tidak juga terjadi, sedang fetus kadang ditemui masih dalam keadaan hidup.
b)      Mekanisme Immunologik
Keseluruhan masa kebuntingan selama 285 hari pada sapi mungkin diperlukan untuk mengembangkan respon imunologik terhadap fetus yang dianggap asing karena adanya kontribusi faktor paternal        (Partodihardjo, 1982).
c)      Mekanisme Hormonal
Menurut teori ini, partus diinduksi dengan peningkatan kadar hormon estrogen atau oxytocin dan penurunan kadar progesteron dalam sirkulasi darah induk. Turunnya kadar progesteron dan meningkatnya kadar estrogen pada akhir masa kebuntingan mungkin dapat merangsang pelepasan oxytocin dari neurohypofise dan menstimulasi uterus untuk memulai berkontraksi sehingga memudahkan dalam proses kelahiran (partus) (Manalu et. al,. 1995). Kemungkinan lain adalah gertakan dan dilatasi cervic dan vagina secara refleks menstimulir pelepasan oxytocin.
Pada hewan ternak, konsentrasi progestron di dalam plasma induk menurun segera sebelum partus (Manalu et. al,. 1995).. Pada dasarnya fungsi progesteron adalah mencegah terjadinya kontraksi otot uterus sehingga uterus menjadi tenang. Hal ini telah dimulai sejak terbentuknya corpus luteum. Jika progesteron lenyap dari peredaran darah misalnya dengan menghilangkan corpus luteum maka proses kebuntingan dapat terganggu dan dapat mengakibatkan abortus. Penurunan kadar progesteron menyebabkan estrogen lebih dominan dalam otot uterus. Selanjutnya oxytocin merangsang uterus untuk memulai kontraksi.
Kadar estrogen meningkat selama masa kebuntingan dan pada sapi mencapai puncak konsentrasinya pada beberapa saat sebelum partus. Estrogen menyebabkan kontraksi myometrium secara spontan. Estrogen dapat menghilangkan aksi hambatan progesteron atau mempunyai pengaruh langsung terhadap kontraktilitas myometrium. Pertambahan estrogen dalam darah mempunyai korelasi yang erat dengan pertambahan berat placenta. Semakin berat placenta dalam uterus, semakin tinggi kadar estrogen dalam darah. Sebelum terjadi kebuntingan, estrogen berperan dalam kontraksi uterus, hal ini diperlukan untuk membawa semen yang dideposisikan dalam cervic ke tempat fertilisasi (Manalu et. al,. 1995)..
Prostaglandin F (PGF), suatu substansi farmakologik aktif, yang dihasilkan oleh karunkula berperan dalam proses partus yaitu merangsang kontraksi otot uterus. Semakin banyak Prostaglandin yang dihasilkan, maka semakin kuat kontraksi tersebut (Manalu et. al,. 1995). Tingginya jumlah PGF di dalam darah venosus uterus erat hubungannya dengan tibanya waktu kelahiran.
4)      Tahap – Tahap Kelahiran (Perejanan)
a)      Stadium Persiapan
Stadium persiapan kelahiran ditandai oleh intesitas kontraski dari muskulatur uterus. Mula-mula konraksi terjadi pada tahap 15 menit sekali, sedangkan lama kontraksi hanya berlangsung dalam kurung waktu 15-30 detik. Karena kontraksi dimulai dari ujung cranial uterus (apex uterus) maka isi kandungan terdesak ke arah serviks. Akibat desakan ini, maka cairan lantois dan amnion membran alantois dan amnion menyusup ke dalam lumen serviks.
Serviks yang telah merileks sedikit demi sedikit membuka. Sesuai dengan berjalannya waktu, maka kontraksi berlangsung cepat dan semakin kuat. Kontraksi terjadi tiap tiga menit sekali dan lama kontraksi berlangsung selama 20-40 detik.  Akhir  stadium persipan ialah servik terbuka  luas yaitu seluas lumen vagina. Pada saar itu terlihat ada alantois membesar.
Bila perejanan perut telah dimulai, maka kantung alantois akan keluar vulva. Allantois pecah dan disusul pengeluaran amnion yang berisi foetus berada dalam vagina. Dengan perejanan yang kuat maka amniom pecah dan foetus keluar dengan dimulai dari putusnya tali pusar dan plasenta.
b)      Stadium Pengeluaran Fetus.
Stadium pengeluaran fetus ini pada umumnya berlangsung relatif sangat singkat. Pada akhir stadium persiapan kantong allantois keluar dari vulva dan kantong amniom masuk ke dalam  ruang pelvis beserta fetusya. Selanjutnya kantong allantois pecah dan kantong amnion mulai masuk kesaluran kelahiran dan selanjutnya menyambul keluar.
Seringkali tepat pada celah vulva dalam kantong amnion adapat diraba adanya kedua ceracak kaki depan atau kaki belakng foetus. Dari pengamatan letak kaki dan ceracak ini kita dapat menetukan letak foetus dalam ruang pelvis. Letak tersebut dapat  terlentang dan dapat pula telunkup tergantung dari kemana telapak teracak itu mengarah. Jika foetus masuk ke dalam ruang pelvis, maka foetus  merupakan berat badan yang menimbulkan keregangan pada ruangan pelvis, maupun jalan kelahiran . Rangsangan yang diterim pelvis dan jalan kelahiran akan diteruskan ke susunan syaraf pusat ( otak). Sehingga timbullah reflek merejan yang kuat. Kontraksi urat daging uterus, perut dan diafragma dapat menimbulkan perejanan yang kuat.
Perejanan mula-mula terjadi tiap 5 menit sekali dan selanjutnya 4 menit dan 3 menit dan seterusny, tipa perejanan mula-mula berlangsung singkat dan lama-lama semakin memanjang waktunya 5-10-20-40-80- detik per tiap perejanan.
Estrogen yang dibutuhkan oleh uterus untuk memperkuat daya kerja rangsangan oxytocin terhadap uterus ( urat daging) guna kontraksi. Pengaruh estrogen dan oxytocin dalam memacu kontraksi uterus dan memperkecil volume uterus menyebabkan plasenta terdorong masuk ke dalam lumen serviks (Manalu et. al,. 1995). Waktu yang dibutuhkan untuk pengeluaran plasenta sangat sangat tergantung kepada kondisi kesehatan hewan yang baru melahirkan. Hewan yang mwndapat kesempatan bergerak dilapangan terbuka misalnya merumput, mendaki lereng gunung atau bukit, lari-lari, maka stadium pengeluaran plasenta berlangsung relatif lebih singkat.
c)      Stadium pengeluaran plasenta
Beberapa saat sebelum jam kelahiran foetus dimulai, vili-vili plasenta putus di beberapa tempat mengalami degenerasi. Proses ini berjalan terus sampai urat daging uterus berkontraksi selama tahap stadium persiapan, dan setelah foetus lahir dan tali pusar putus maka volume darah dalam vili-vili turun dengan cepat dan vili-vili segera kempes dan berkerut. Kontraksi uterus terus berlangsung dan plasenta akan dikeluarkan setelah terjadi pelepasan foetalis dari plasenta meternal (Manalu et. al,. 1995). Pengurangan volume dan kontraksi ini menyebabkan krepta-krepta endometrium tempat vili-vili plasenta fetalis bertaut menjadi dangkal. Hal ini menyebabkan vili-vili plasenta terlepas dan membawa plasenta lebih mendekati serviks.
d)     Peran Hormonal
Horman yang ikut memegang peranan dalam mengeluarkan plasenta dari uterus adalah estrogen dan oksitosin. Kedua hormon memacu uterus untuk berkontraksi dan turunnya susu dari alveoli ke dalam saluran susu, maka aktivitas hewan yang baru lahir yang menyusu memberi efek kepada sekresi dan oksitosin membantu pengeluaran plasenta. Membran alantois menjadi pecah dan cairan alantois mulai mengalir keluar, sedangkan amnion beserta fetus memasuki ruang pelvis, sehingga terjadi rangsangan ke pusat sumsum tulang punggung yang diteruskan berupa refleks ke urat daging perut dan diafragma serta timbullah kontraksi bersama urat daging perut dan diafragma (Manalu et. al,. 1995).

e)      Puerperium
Puerperium ialah waktu yang terjadi pada induk hewan setelah selesai melahirkan fetus dan plasentanya sampai induk tersebut timbul kembali birahi normal. Perubahan-perubahan yang penting dalam puerpurium adalah regenarasi endometrium, involusi uterus dan birahi setelah partus.
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya proses kelahiran, yakni:
1.      Penurunan fungsi placenta diakhir usia kehamilan menyebabkan kadar estrogen dan progesteron menurun mendadak sehingga nutrisi untuk janin dan placenta berkurang.
2.      Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus frankenhauser menjadi stimulasi bagi kontraksi otot polos rahim.
3.      Peningkatan beban/stress pada calon ibu dan janin menyebabkan peningkatan kativasi kortison,prostaglandin dan oksitosin menjadi pencetus rangsangan-rangsangan untuk melahirkan.
6)      Perawatan Pasca Kelahiran
Ada beberapa sarana yang perlu disiapkan  pada saat kelahiran: suatau petak kandang yang beralas ( bedding) yang bersih, sumber penerangan ( lampu), air hangat dan sabun, pembungkus ekor, desinfektan, obat untuk pusar  ( yodium, merthiolate), suatu kantung enema dan suatu zat laksatif seperti susu magnesia.
Plasenta idealnya harus bisa keluar dalam waktu 3 jam dan harus diperiksa bahwa tidak ada potongan-potongan ata sisa-sisa yang tertinggal karena hal itu dapat menyebabkan timbulnya founder atau infeksi. Bila dalam 6 jam tidak keluar seluruhnya, perlu dimintakan bantuan dokter hewan untuk mengelurkan sisa-sisa tersebut.
Beberapa kemungkinan yang terjadi pasca kelahiran:
1.      Abnormalitas
2.      Kelahiran yang bertambah lama, kurang berfungsinya plasenta dan atau asfiksia ( kekurangan oksigen)
3.      Distokia karena masalah yang berkaitan dengan fetus atau induk.
4.      Gangguan metabolisme secara umum pada induk sebelum atau selama partus ( misalnya toksemia kebuntingan)
5.      Hipotermia, Shock lingkungan dan kedinginan pada fetus yang baru lahir
6.      Kelemahan, kegagalan menyusu dan memperoleh kolostrum.
7.      Tertindih oleh induk, khususnya bagi anak babi.
8.      Bobot lahir yang rendah, memperburuk kecendrungan  nomor 5, 6 dan 7
9.      Infeksi bakteri , mencret dan dehidrasi.
10.  Kondisi seperti anemia,hipoglikemia, dan kekurangan mineral
11.  Asuhan yang buruk atau ditolak oleh induk sendiri, misalnya apada anak domba.
12.  Dimangsa oleh hewan lain, khususnya untuk anak domba.


 

BAB III
PENUTUP
Dari hasil penulisan ini, maka dapat disimpulkan bahwa:
1)      Fetus adalah hasil akhir dari suatu proses diferensiasi secara teratur yang merubah zigot bersel satu menjadi suatu replica dari jenis hewan yang bersangkutan.
2)      Perkembangan fetus dibagi beberap tahapan yaitu: diferensiasi, pembentukan somit, organogenesis, perkembangan organogenesis dan ekstermitas sampai kelahiran.
3)      Tanda-tanda induk yang akan melahirkan: induk hewan gelisah, ligamenta sacrospinosum et tuberosum merelaks, edema pada vulva, lendir sumbat cervic mencair, kolostrum telah menjadi cair dan apabila ambing dipencet akan mengeluarkan susu, dan sebagainya.
4)      Beberapa tahapan persiapan melahirkan yaitu stadium persiapan, pengeluaran fetus, dan pengeluaran plasenta.
 
DAFTAR PUSTAKA
Achyadi, K. R., 1979. Pengaruh PMSG dan HCG untuk Induksi Superovulasi Pada Domba Priangan. Tesis MS Pascasarjana IPB. Bogor.

Iman dan Fahriyan., 1992. In Vitro Fertilisasi, Transfer Embrio dan Pembekuan Embrio. Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB. Bogor
Inonu, I. dan L.C. Iniguez., 1991. Sheep Performance at RIAP’s Bogor Research Fasility, In : Sheep Proliferacy Small Ruminan. CRSP Progress Report 1990-1991
Manalu, W. dan M. Y. Sumaryadi., 1995.  Hubungan Antara Konsentrasi Progeteron dan Estradiol Dalam Serum Induk Selama Kebuntingan Dengan Massa Fetus Pada Akhir Kebuntingan. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan BPT. Ciawi. Bogor. Pp:57-62.
Partodihardjo. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta.
Sumaryadi, Haryati dan Wasmen Manalu. 2000. Efek Penyuntikan PMSG terhadap Konsentrasi Progestron kaitannya dengan Pertumbuhan Kelenjar Uterus Domba pada Phase Luteal Siklus Birahi, Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian         Peternakan Bogor Hal. 111 – 116.
Toelihere R. Mozes.1985.Fisiologi Reproduksi Pada Ternak, Penerbit Angkasa Bandung,





















    http://one.indoskripsi.com/node/3846.  Posted July 6th, 2008 by skripsibangpitung




Kelahiran merupakan proses pengeluaran fetus yang dimulai dengan kontaksi kuat dan teratur dari uterus dan cervix. Proses kelahiran biasanya dibagi menjadi tiga fase(1) pelebaran cervix, (2) pengeluaran fetus dan  (3) pengeluaran plasenta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar